FOTO KEGIATAN

seminar
BIMBINGAN BELAJAR UNTUK ANGK. 2010 DAN 2011 setiap Hari MINGGU jam 09.00 di Kampus 1 | KAJIAN INTELEKTUAL setiap HARI MINGGU BA'DA DUHUR setelah BIMBEL di Kampus 1
"Jangan pernah berfikir apa yang bisa organisasi berikan padamu, tapi cobalah berfikir apa yang bisa kamu berikan kpd organisasimu..." (Hadi Kasmaja)

Kamis, 05 April 2012

Bahasa Tanpa Angka: Suku Amazon Tidak Punya Kata untuk Menyatakan ‘Satu,’ dan Bilangan Lainnya

Sebuah bahasa Amazon dengan hanya 300 penutur tidak punya kata untuk menyatakan konsep “satu” atau angka spesifik lainnya, menurut sebuah studi dari tim yang dipimpin MIT.

Tim ini, dipimpin oleh professor otak dan ilmu kognitif MIT, Edward Gibson, menemukan kalau anggota suku Piraha di Brasil barat laut terpencil menggunakan bahasa untuk menyatakan kuantitas relatif seperti “sedikit” dan “banyak,” namun tidak bilangan pasti.
Sering diasumsikan kalau menghitung adalah bagian tak terlepaskan dari kognisi manusia, kata Gibson, “namun inilah kelompok yang tidak menghitung. Mereka dapat belajar, namun itu tidak berguna bagi kebudayaan mereka, jadi mereka tidak pernah mengambilnya.”
 Studi ini, yang tampil pada jurnal Cognition tanggal 10 Juni 2008, menawarkan bukti kalau kata angka adalah konsep yang dibuat oleh kebudayaan manusia sebagaimana dibutuhkan, dan bukan bagian inheren dari bahasa, kata Gibson.

 Penelitian ini didasarkan oleh studi tahun 2004, yang menemukan kalau Piraha memiliki kata-kata untuk menyatakan kuantitas “satu”, “dua”, dan “banyak”. Para peneliti MIT mengamati fenomena yang sama ketika mereka meminta penutur Piraha menyatakan himpunan benda ketika ditambahkan, dari satu hingga 10.
Walau begitu, tim MIT memutuskan menambahkan prosedur baru – mereka mulai dengan 10 benda dan meminta anggota suku ini untuk menghitung mundur. Dalam eksperimen tersebut, anggota suku menggunakan kata yang sebelumnya dimaknai “dua” ketika ada lima atau enam benda yang ada, dan memakai kata “satu” untuk sembarang kuantitas antara satu dan empat.
 Hal ini menunjukkan kalau “itu bukan bilangan menghitung sama sekali,” kata Gibson. “Mereka menandai kuantitas relatif.”
 Ia mengatakan kalau tipe strategi menghitung seperti ini belum pernah diamati sebelumnya, walaupun bisa ditemukan dalam bahasa lain yang hanya memiliki kata menghitung “satu”, “dua”, dan “banyak”.
Makalah tersebut adalah bagian dari proyek yang lebih besar yang menyelidiki hubungan antara kebudayaan Piraha dan kognisi serta bahasa mereka, menguji beberapa dakuan yang diajukan oleh Daniel Everett, seorang linguis dari   Illinois State University, dalam Current Anthropology tahun 2005.
Penemuan lain dari proyek ini adalah Piraha dapat melakukan tugas mencocokkan eksak sejauh tidak ada komponen mengingat di dalamnya, namun ketika ada komponen mengingat, mereka hanya melakukan pendekatan. Hal ini menunjukkan kalau bahasa adalah sebuah teknologi kognitif yang membantu tugas mengingat manusia.
Pengarang utama makalah ini adalah  Michael Frank, seorang mahasiswa pasca sarjana di lab Gibson. Pengarang lain adalah Evelina Fedorenko, seorang rekan pasca doctoral di Lembaga Penelitian Otak McGovern di MIT, dan Everett sendiri.

Sumber : Fakta Ilmiah

0 komentar:

Posting Komentar

Komentar yuk komentar. Setelah dibaca sebaiknya tinggalkan komentar Anda :)

TULIS APAPUN DISINI