Tim
ini, dipimpin oleh professor otak dan ilmu kognitif MIT, Edward Gibson,
menemukan kalau anggota suku Piraha di Brasil barat laut terpencil
menggunakan bahasa untuk menyatakan kuantitas relatif seperti “sedikit” dan “banyak,” namun tidak bilangan pasti.
Sering
diasumsikan kalau menghitung adalah bagian tak terlepaskan dari kognisi
manusia, kata Gibson, “namun inilah kelompok yang tidak menghitung.
Mereka dapat belajar, namun itu tidak berguna bagi kebudayaan mereka,
jadi mereka tidak pernah mengambilnya.”
Studi
ini, yang tampil pada jurnal Cognition tanggal 10 Juni 2008, menawarkan
bukti kalau kata angka adalah konsep yang dibuat oleh kebudayaan
manusia sebagaimana dibutuhkan, dan bukan bagian inheren dari bahasa,
kata Gibson.
Penelitian ini
didasarkan oleh studi tahun 2004, yang menemukan kalau Piraha memiliki
kata-kata untuk menyatakan kuantitas “satu”, “dua”, dan “banyak”. Para
peneliti MIT mengamati fenomena yang sama ketika mereka meminta penutur
Piraha menyatakan himpunan benda ketika ditambahkan, dari satu hingga
10.
Walau begitu, tim MIT memutuskan
menambahkan prosedur baru – mereka mulai dengan 10 benda dan meminta
anggota suku ini untuk menghitung mundur. Dalam eksperimen tersebut,
anggota suku menggunakan kata yang sebelumnya dimaknai “dua” ketika ada
lima atau enam benda yang ada, dan memakai kata “satu” untuk sembarang
kuantitas antara satu dan empat.
Hal ini menunjukkan kalau “itu bukan bilangan menghitung sama sekali,” kata Gibson. “Mereka menandai kuantitas relatif.”
Ia
mengatakan kalau tipe strategi menghitung seperti ini belum pernah
diamati sebelumnya, walaupun bisa ditemukan dalam bahasa lain yang hanya
memiliki kata menghitung “satu”, “dua”, dan “banyak”.
Makalah
tersebut adalah bagian dari proyek yang lebih besar yang menyelidiki
hubungan antara kebudayaan Piraha dan kognisi serta bahasa mereka,
menguji beberapa dakuan yang diajukan oleh Daniel Everett, seorang
linguis dari Illinois State University, dalam Current Anthropology
tahun 2005.
Penemuan lain dari proyek
ini adalah Piraha dapat melakukan tugas mencocokkan eksak sejauh tidak
ada komponen mengingat di dalamnya, namun ketika ada komponen mengingat,
mereka hanya melakukan pendekatan. Hal ini menunjukkan kalau bahasa
adalah sebuah teknologi kognitif yang membantu tugas mengingat manusia.
Pengarang
utama makalah ini adalah Michael Frank, seorang mahasiswa pasca
sarjana di lab Gibson. Pengarang lain adalah Evelina Fedorenko, seorang
rekan pasca doctoral di Lembaga Penelitian Otak McGovern di MIT, dan
Everett sendiri.
Sumber : Fakta Ilmiah

:.
0 komentar:
Posting Komentar
Komentar yuk komentar. Setelah dibaca sebaiknya tinggalkan komentar Anda :)